Perempuan Pembawa Kayu Bakar: Telaah Al Quran Surah Al Lahab

Oleh : Dr. Hj. Ade Nailul Huda, Lc, MA.
[Guru Bidang Studi Tafsir dan Ulumul Quran Pondok Pesantren Attaqwa Putri]

Istri adalah pendamping suami dalam rumah tangga. Dalam kamus besar bahasa Indonesia istri adalah perempuan yang telah menikah atau bersuami. Sebagai teman hidup, istri memiliki pengaruh sangat besar terhadap suaminya. Fungsi istri bukan hanya sebagai abdi dalem yang bertugas mengurus kasur, sumur dan dapur suami, namun istri adalah partner kehidupan yang bertugas ibarat kaca spion, membantu pengemudi agar dapat berjalan dengan baik, memberi masukan kemana harus berbelok dan kapan bisa berhenti.

Al Quran banyak bercerita bagaimana istri memiliki peran sebagai penentu kesuksesan suami. Figur istri istri sholehah seperti  Istri Imran dalam Surah Ali Imran, Istri Istri Nabi Ibrahim AS, Istri Nabi Musa AS atau melalui peran yang dijalani Khodijah Al Kubra saat mendampingi Rasululah SAW berdakwah banyak menghiasi Al Quran sebagai pedoman manusia menuju keselamatan. Pengaruh  istri yang mendukung suami dalam keburukan juga diceritakan dalam Al Quran diantaranya dalam Al Quran Surah Al Lahab melalui perumpamaan “ Hammalatal Hatab” : perempuan pembawa kayu bakar (QS. Al Lahab:4).

Surah Al Lahab bercerita tentang Abu Lahab dan istrinya yang bahu membahu dalam menentang dakwah Nabi SAW. Nama asli Abu Lahab adalah Abdul Uzza dan merupakan salah satu paman Rasulullah SAW yang memiliki kedudukan terpandang dikalangan bangsa Quraish namun memilih untuk mengingkari kerasulan Nabi Muhammad SAW. Abdul Uzza memiliki seorang istri yang terkenal cantik serta memiliki leher jenjang nan indah bernama Ummu Jamil binti Harb bin Umayyah, dia adalah perempuan bangsawan dan hartawan saudari Abu Sufyan bin Harb bin Umayyah. Dalam beberapa riwayat  dikisahkan bahwa Ummu Jamil sangat membanggakan leher jenjangnya hingga ia selalu memakai kalung mahal untuk  menonjolkan keindahan lehernya tersebut.

Dari beberapa kisah yang menceritakan kehidupan Ummu Jamil, diketahui bahwa Ummu Jamil memiliki kedudukan dan pengaruh dikalangan bangsa Quraish. Sehingga fakta ini sedikit menjelaskan kepada kita bahwa stigma penduduk Arab yang saat itu dikenal sebagai masyarakat Jahiliyah yang merendahkan seluruh wanita tidaklah seluruhnya benar, bagi perempuan perempuan seperti Ummu Jamil yang bangsawan lagi hartawan, perempuan juga bisa menjadi tokoh berpengaruh. Dalam riwayat Qatadah dan Mujahid yang berseberangan dengan riwayat lainnya disebutkan bahwa gelar sebagai perempuan pembawa kayu bakar dalam Al Quran adalah karena keahlian Ummu Jamil memberikan pengaruh dan provokasi kepada kaumnya.  Al Baghawi melalui riwayat Qotadah dan Mujahid menyebut bahwa Ummu Jamil kerap menjadi provokator dan gemar menyulut permusuhan diantara manusia terutama untuk melawan Nabi Muhammad SAW. (Al Baghawi : 8/582).

Kisah Ummu Jamil sebagai perempuan pembawa kayu bakar terangkat saat Allah SWT menurunkan surah Al Lahab yang bercerita mengenai kecelakaan Abu Lahab dan istrinya. Dalam kitab Sababunnuzul karya Al Wahidi, suatu hari Rasululullah SAW menaiki bukit Shafa sambil berteriak lantang “Wahai kaum Quraish, marilah berkumpul bersama”. Pada saat itu seluruh kaum Quraish berkumpul termasuk Abu Lahab. Lalu Rasululah SAW bertanya: “Wahai Kaum Quraish, bagaimanakah pendapatmu bila aku memberikan kabar bahwa musuh akan datang besok pagi atau besok petang, adakah kamu mempercayainya? Mereka menjawab: “Kami Akan mempercayainya dengan sepenuh hati”.  Lalu Nabi Berkata: “Aku peringatkan kepadamu bahwa siksa Allah yang amat berat akan datang menimpa”. Mendengar perkataan Rasulullah SAW timbul rasa kesal dan malu pada diri Abu Lahab hingga dia berkata “Celakalah engkau Muhammad, apakah hanya untuk ini kami dikumpulkan?” akibat jawaban ini, turunlah surah Al Lahab yang mengecam kelakuan Abu Lahab dan menjanjikan kecelakaan yang akan menimpanya kelak di akhirat. (Al Wahidi: 469)

Semenjak kejadian tersebut, Baik Abu Lahab maupun istrinya senantiasa bahu membahu memerangi dakwah Rasulullah SAW. Bahkan dikisahkan setiap hari Ummu Jamil selalu menebarkan duri di jalan yang akan dilalui Nabi SAW untuk mencelakainya. Kerja keras dan kerjasama suami istri ini dalam menentang dakwah Rasulullah SAW menyebabkan kecaman Allah terhadap keduanya. Kecaman pertama dilontarkan kepada Abu Lahab melalui Firman Allah dalam Al Quran Surah Al Lahab ayat 1-3.

Artinya:

Celakalah kedua tangan Abu Lahab dan susungguhnya akan binasa (1)

Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan (2)

Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak (3)

Simbol kedua tangan yang digunakan Al Quran terhadap Abu Lahab dalam ayat ini karena tangan seringkali diidentikkan dengan kekuasaan, Abu Lahab adalah orang yang semasa di dunia memiliki kekuasaan besar yang ia gunakan untuk memerangi dakwah Nabi SAW. Al Quran juga menyatakan bahwa kelak harta yang selalu menopangnya didunia tidak akan berguna saat jasadnya dibakar dalam api neraka.

Penyebab pertama kali kecaman Allah dilontarkan kepada Abu Lahab adalah karena Abu Lahab seorang kepala rumah tangga yang dalam Islam memiliki peran untuk mengarahkan istrinya dalam keimanan dan kebaikan. Kepala keluarga dalam Islam bertugas sebagai pemimpin keluarga, pendidik dan pemelihara akidah dan ibadah bagi seluruh anggota keluarga; istri, anak anak serta orang yang berada dibawah tanggung jawabnya sebagaimana perintah Al Quran dalam Surah At Tahrim ayat 66 :

Artinya:  “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka

Perintah menjaga ini menurut mayoritas mufassir ditujukan kepada kepala laki laki sebagai kepala rumah tangga.

Kecaman selanjutnya Allah berikan pada Ummu Jamil Istri Abu Lahab yang disebutkan dalam Al Quran Surah Al Lahab Ayat :4-5

Artinya :

Dan begitu pula istrinya pembawa kayu bakar (4)

Yang dilehernya ada tali dari masad (5)

Gambaran Perempuan (istri) pembawa kayu bakar dalam surah ini hakekatnya memiliki makna dan pelajaran yang dalam bagi seluruh perempuan terlebih istri. Suami dan istri seyogyanya selalu bahu membahu dalam beramal shaleh, membina keluarga yang taat dan mencetak generasi sholeh dan sholehah hingga berkumpul kelak di syurga-Nya dalam kebahagiaan. Namun istri istri pembawa kayu bakar ini memilih untuk tidak mengingatkan suaminya saat melakukan perbuatan dosa, tidak menjadi benteng bagi suaminya dari godaan syahwat, serta berlaku egois hanya memikirkan keduniawian. Melalui Ummu Jamil Sang Pembawa Kayu Bakar, Al Quran mengecam jenis perempuan seperti ini.

Dalam ayat ini, kisah Ummu Jamil juga meng ibroh kan kepada kita bahwa sebesar apapun cinta suami istri bila kecintaan tersebut  tidak dilandasi keimanan dan bahu membahu dalam ibadah dan amal shaleh niscaya diakhirat nanti keduanya akan menjadi musuh yang saling menyalahkan sebagaimana Ummu Jamil yang bersedia membawa kayu bakar untuk suaminya.

Ummu Jamil juga disebutkan dalam Al Quran akan mengenakan serabut pohon Masad dilehernya, pohon masad adalah pohon yang tumbuh dari dasar neraka yang sangat keras hingga tidak mungkin untuk dipotong (Ibnu Katsir :8/487). Pemakaian kalung Masad ini adalah simbol dari kehinaan layaknya seorang budak dan celaan bagi kebiasaannya yang senantiasa membanggakan nasab dan hartanya serta kegemarannya menonjolkan kekayaannya lewat leher jenjangnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *