Cara Menyikapi Kemenangan: Telaah Al Quran Surah An Nasr

Oleh: Dr. Hj. Ade Nailul Huda, Lc, MA
(Guru Bidang Studi Tafsir dan Ulumul Quran Pondok Pesantren Attaqwa Putri)

 

Hidup adalah perjuangan tanpa batas, dalam hidup kita akan dipaksa untuk berkompetensi yang berujung pada kemenangan atau kekalahan. Hidup juga seperti dua mata uang yang saling berseberangan, hari ini boleh jadi datang keberuntungan namun esok ada saatnya merugi, satu waktu bahagia menyapa namun tak urung kesedihan juga terkadang melanda, demikian sunnatullah kehidupan yang tak terelakkan.

Manusia diciptakan dalam keadaan lemah, kerap berkeluh kesah lagi kikir (Q.S. Al Ma’arij : 19 ), dalam keadaan sulit dan sedih kecenderungan hati manusia adalah kembali kepada Allah SWT, manusia terbiasa baru mengingat Allah SWT dan memohon pertolongannya disaat sulit (QS.Yunus : 12) namun dikala kesulitan telah terlepas, saat bahagia dan mendapatkan kemenangan, biasanya mereka lupa dan menganggap kemenangan tersebut adalah hasil usaha yang telah menjadi haknya, hingga dalam Al Quran disebutkan mayoritas manusia adalah makhluk yang tidak pandai bersyukur (QS. Saba : 13).

Surah An Nasr adalah salah satu mukjizat Al Quran mengenai kebenaran kabar yang dibawanya, dalam surah ini Nabi SAW dijanjikan akan memperoleh kemenangan berupa penaklukan Kota Makkah kota kelahiran Nabi SAW, kota di mana rumah Allah SWT berdiri, kota di mana sujud sujud kaum muslimin terarah, kota di mana ibadah haji yang dilaksanakan sejak Nabi Ibrahim AS diamalkan. Janji Allah SWT dalam Al Quran ini terealisasi pada tahun ke 8 Hijriyah bertepatan 630 Masehi di mana saat itu Nabi Muhammad SAW beserta 10.000 pasukan bergerak dari Madinah menuju Makkah dan berhasil menaklukkan kota Makkah tanpa perlawanan dan pertumpahan darah. Penaklukan ini diikuti dengan berbodong bondongnya penduduk Makkah masuk ke dalam agama Islam sesuai dengan janji Allah SWT dalam QS An Nasr ayat 1-2:

Artinya:

Apabila telah datang pertolongan Allah dan Kemenangan (1)

Dan engkau melihat manusia berbondong bondong masuk agama Allah (2)

 

Wajar bila kemenangan besar ini menimbulkan euforia kebahagiaan yang luar biasa dikalangan kaum muslimin saat itu, mengingat selama 8 tahun lamanya kaum Muhajirin Makkah  terusir dari tanah kelahirannya dan selama itu pula kaum muslimin terhalang untuk mengunjungi Baitullah Ka’bah untuk beribadah haji dan umroh. Akan tetapi Allah SWT melalui wahyu yang diterima Nabi-Nya memberikan panduan saat menghadapi kemenangan dan kebahagiaan ini melalui Tasbih, Tahmid dan Istighfar, sebagaimana termaktub dalam QS. An Nasr ayat 3:

Artinya:

Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sungguh Dia maha penerima taubat (3)

Tasbih adalah ucapan Subhanallah yang bermakna Maha Suci Allah. Orang yang mengucapkan Subhanallah berarti mensucikan Allah SWT dari segala kekurangan dan kehinaan. Lafadz ini diucapkan saat memperoleh kemenangan karena pada hakekatnya kemenangan adalah pemberian Allah Yang Maha Perkasa, Tuhan yang suci dari kekurangan dan kehinaan, bukan produk dari manusia lemah dan tidak suci dari kekurangan seperti kita.

Tahmid adalah Ucapan Alhamdulillah yang bermakna Segala Puji Bagi Allah SWT, orang yang membaca tahmid saaat kemenangannya berarti menyadari bahwa Allah lah yang berhak dipuji saat kemenangan diraih, bukan dirinya atau makhluk lainnya, karena kemenangan adalah pemberian Allah SWT yang berlaku dengan takdir Nya, bukan hanya karena kemampuan dan usaha manusia belaka. Berapa banyak orang yang telah berupaya keras dan memiliki kemampuan namun gagal dalam usahanya.

Istighfar adalah ucapan Astaghfirullahaladzim yang berarti memohon ampunan pada Allah SWT. Lafadz ini diucapkan saat mendapat kemenangan atau kebahagiaan agar hati terhindar dari sifat ujub (mengagumi diri sendiri) dan takabbur (sombong). Kalimat Istighfar dapat menutup celah hati dan membentenginya dari bisikan setan yang mengajak pada dua sifat tercela ini sambil menyadari bahwa hanya  Allah-lah Al Mutakabbir (Yang Berhak Untuk Sombong).

Pengucapan lafadz Tasbih, Tahmid dan Istighfar ini selain memelihara pengucapnya dari euforia yang berlebihan, memantapkan rasa syukur dalam hatinya, juga dapat menjaganya dari iri dengki manusia lain yang boleh jadi menjadi sumber kecelakaannya kelak. Lagi pula kebahagiaan di dunia adalah hal biasa yang selalu berjalan beriringan dengan kesedihan, sebagaimana kemenangan terkadang bersalipan dengan kekalahan. Orang beriman akan mengusahakan yang terbaik dalam hidupnya disertai rasa tawakkal dan syukur pada Rabb-Nya serta tidak berlebihan, baik saat memperoleh kebahagiaan atau kesedihan.

Dalam beberapa penafsiran surah An Nasr, terdapat riwayat penafsiran lain yang bersumber dari Ibnu Abbas ra, di mana suatu ketika Ummar Bin Khattab ra mengundang Ibnu Abbas menghadiri Majelis Tafsir yang dihadiri sahabat sahabat Nabi SAW. Saat itu Umar bin Khattab bertanya pada Ibnu Abbas “Bagaimanakah pendapatmu mengenai Tafsir Surah An Nasr”. Ibnu Abbas yang dikenal dengan gelar Turjamanil Quran menjelaskan bahwa surah ini hakikatnya adalah sebuah pemberitahuan kepada Nabi SAW bahwa ajal beliau sudah dekat. Saat Makkah sudah ditaklukkan dan masyarakat telah berbondong bondong masuk kedalam agama Islam, maka tugas Nabi SAW sebagai pembawa risalah telah selesai, melalui surah inilah Allah SWT memerintahkan beliau untuk banyak bertasbih, bertahmid dan beristighfar di akhir hidupnya. (At Thabari: 10/8816). Dalam sebuah Riwayat dari Aisyah RA, beliau berkata, bahwasanya Nabi SAW menjelang akhir hidupnya senantiasa membaca kalimat  “Subahanallah Wa Bihamdihi Astaghfirullah Wa Atubu Ilaik” (HR. Muslim. Nomor Hadis 220).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *