Bahasa Arab: Pembawa Kalam Ilahi

Dewasa ini, bahasa asing menjadi alat komunikasi antar negara, seperti slogan departeman kebahasaan yang terpatri di pondok pesantren kami  “Let’s Speak English and Arabic Language Because I Feel Ashamed if I Speak Forbidden Language” Tentunya, slogan ini menjadi pengingat di mana pun kami berada. Tulisan-tulisan itu seolah bergerak dan membayangi agar kami selalu berbahasa Arab dan Inggris.

Hari ini, Sabtu 7 September 2019 pukul 09.00 pengeras suara bagian informasi berbunyi memekik telinga, para anggota Bagian Bahasa PPAWATI dengan jas hijaunya mulai menghampiri asrama-asrama agar gerakan dan langkah kami lebih cepat menuju Masjid Al-Baqiatussolihah. Rasa lelah setelah berlolahraga serta rasa kantuk dan malas tak menghalangi kami untuk mengikuti Muhadarah Bahasa karena ada sesuatu yang istimewa. Seorang pembicara yang berasal dari negeri Kinanah, negeri 1000 menara, negeri pusat peradaban ilmu, negeri para nabi, Mesir.

Jarum jam menunjukan tepat pukul jam 10.00 WIB, seluruh santri Pondok Pesanten Attaqwa Putri sudah berkumpul di Masjid Al-Baqiyatussolihat. Suara hiruk-pikuk mendadak lenyap saat Master Ceremony (MC) membuka acara.

Muhadarah Bahasa bersama Syaikh Ahmad Ishom

Muhadarah Bahasa  kali ini sangat berbeda, karena Pondok kami kedatangan Syaikh dari Universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir. Namanya Syaikh Ahmad Ishom Abdul Jayyid Attamadi, MA. Lelaki berumur 28 tahun ini merupakan seorang berkebangsaan Mesir dan pengajar Qiro’at dan Lahjah Bahasa Arab dan Ilmu Al-Qur’an di Universitas Al-Azhar Cairo Mesir. Rasa antusias menyelimuti hati dan pikiran kami. Tak menyangka, kami dapat bertemu, berinteraksi, dan mendengarkan langsung Syaikh Al-Azhar Cairo dalam Muhadarah Bahasa.

Mengusung tema “Pengaruh Bahasa Arab dalam Membangun Kepribadian Muslim” dan dibantu oleh Ustadz Rizki Akhri Januar sebagai penerjemah, Syaikh Ahmad Ishom  memaparkan bahwa tugas kami sebagai santri Pondok Pesantren yaitu dapat memindahkan bahasa Arab dari tulisan ke percakapan sehari-hari karena Bahasa Arab merupakan bahasa yang membawa kalam Allah yaitu Al-Quran. Meski Indonesia merupakan negara yang menggunakan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa persatuan. Namun, Indonesia juga bisa mendapatkan julukan ‘Negeri Arab’ jika masyarakatnya menggunakan bahasa Arab dalam percakapan sehari-hari.

Beliau juga menjelaskan bahwa Negeri Arab terbagi dua yaitu Arab asli dan Arab musta’ribah. Arab asli adalah orang yang benar-benar Arab seperti pada zaman Nabi Ibrahim yang tidak terdapat suku Arab kecuali di Yaman. Setelah pecahnya bendungan Saddul Ma’arib suku Arab asli keluar dari Yaman dan menyebar ke negara-negara yang tidak berbicara bahasa Arab.

Negeri Iraq, Afganistan, Rusia, juga disebut negeri Arab karena saat Saad bin Abis Waqqash menembus Persia, masyarakat setempat banyak yang menikah dengan para sahabat sehingga mereka berbicara bahasa Arab.  Sama halnya dengan Iraq, Mesir memiliki suku asli yang bernama Qibti. Akan tetapi, setelah Amru’ bin Ash masuk ke sana pada tahun 20 Hijriah dan para sahabat banyak yang menikah dengan masyarakat Mesir hingga saat ini Mesir berbicara dengan bahasa Arab.

“Jika negara-negara seperti Iraq, Rusia, Afganistan, dan Mesir yang awalnya tidak berbahasa Arab kemudian dapat berubah drastis bahkan menjadi bangsa Arab. Maka sepatutnya Indonesia dengan masyarakat yang mayoritas memeluk agama Islam lebih berhak menjadikan bahasa arab sebagai bahasa keseharian,” Ucap Syaikh Ahmad Ishom.

Meski demikian, Syaikh Ahmad Ishom juga menambahkan, “Ada 3 penyebab lemahnya bahasa Arab yaitu sugesti dalam pikiran “bahasa arab itu sulit”, tidak ada rasa bangga dan tidak tertarik dengan bahasa Arab karena bahasa yang sering dimunculkan/digunakan di tempat umum adalah bahasa Inggris, dan masyarakat lebih bangga serta senang menggunakan bahasa daerah yang berlebihan sehingga tidak mau menggunakan bahasa Arab dalam keseharian”

Pada pembahasan tersebut, Syaikh mengajak dan berharap kepada kami untuk berbahasa Arab karena mayoritas masyarakat Indonesia beragama Islam. Tak terasa, 1 jam 30 menit kami lalui dengan mendengarkan paparan dari beliau.

Terima kasih Syaikh!

Telah berbagi ilmumu di pondok kami tercinta, semoga kami dapat  mengikuti jejak muliamu dalam mengamalkan ilmu dan mewujudkan harapanmu agar dapat menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa sehari-hari.

MM

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *