Telaah Al-Qur’an Surah (95) At-Tin : Mengembangkang Potensi Manusia

Telaah Al-Qur'an Surah At-Tin : Mengembangkang Potensi Manusia,
Oleh : Hj. Ade Nailul Huda, MA, Ph.D @iiq.ac.id,

BEKASI, ATTAQWAPUTRI.SCH.ID – Surah At Tin adalah surah ke 95 dalam Al Quran, terdiri dari 8 ayat dan diturunkan sebelum Nabi SAW hijrah ke kota Makkah sehingga dia masuk dalam golongan surah Makiyyah. Nama surah ini diambil dari ayat pertama pada surah yaitu At Tin yang berarti buah Tin dan diturunkan sesudah surah Al Buruj.

Artinya   : Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, demi Gunung Sinai, dan demi negeri (Mekah) yang aman ini. (At-Tin/95:1-3)

Melalui surah ini Allah swt bersumpah dengan empat hal yaitu : Buah Tin, Buah Zaitun, Gunung Sinai dan Kota Makkah Al Mukarromah. Para mufassir memiliki pendapat yang bermacam macam mengenai makna dari empat sumpah Allah swt pada surah ini, karena sebagaimana kekhususannya, Al Quran tidak bersumpah kecuali pada sesuatu yang istimewa.

Sebagian mufassir memilih memaknai “Wattini Wazzaitun” ini dengan makna yang hakiki, yaitu dua buah yang masyhur dikalangan bangsa arab dan memiliki beragam manfaat untuk kesehatan. Buah Tin dikenal sebagai buah yang memiliki kandungan gizi sangat tinggi, mudah diserap tubuh dan berfungsi membersihkan pencernaan karena teksturnya yang berserat, buah Tin juga dipercaya menambah kesuburan, mengobati anemia dan mengandung kalsium yang baik untuk tulang, dalam buahnya terkandung zat trytophan yang membuat tubuh merasa lebih rileks sehingga menurunkan hypertensi dan mempermudah tidur. Sedang buah Zaitun yang disebut Al Quran berasal dari pohon yang diberkahi (QS.An Nur: 35) merupakan buah yang kaya dengan lemak baik, Zaitun berkhasiat untuk menjaga kesehatan jantung karena kandungan minyaknya mampu menaikkan HDL, Zaitun juga mampu menurunkan tekanan darah tinggi dan mencegah infeksi, mencegah kangker, menutrisi otak, mencegah osteoporosis, mengatasi konstipasi hingga bermanfaat untuk kecantikan kulit, kuku dan rambut.

Sedangkan Mufassir lainnya menjadikan dua nama buah ini sebagai lambang atau simbol sesuatu, hingga beragam penafsiran muncul terkait ini. Diantaranya adalah riwayat Ibnu Abbas yang memaknai Wattini Wazzaitun sebagai tempat dimana para nabi menerima wahyu. Tin dan Zaitun menunjukkan tempat kelahiran Nabi Isa di Baitul Maqdis Palestina yang memang dikenal sebagai penghasil buah Tin dan Zaitun terbaik. Saat ini bahkan penjajah palestina bangsa Israel menjadi salah satu produsen Zaitun terbesar dan terbaik didunia. Adapun Thursina merupakan Gunung Sinai yang merupakan tempat Nabi Musa mendapatkan wahyu dari Allah swt. Sedangkan Makkah adalah tempat diturunkannya wahyu pertama kali kepada nabi Muhammad SAW ([i]). Salah satu tanda keistimewaan Nabi Muhammad saw dalam ayat ini adalah disebutkannya kota Makkah dengan lafadz ini (Wa Hadza Al Baladil Amin) kalimat hadza (ini) menunjukkan sesuatu yang dekat dan hal tersebut mengisyaratkan kedekatan Nabi Muhammad disisi Allah swt. Setelah menyebutkan keistimewaan empat hal tersebut, Al Quran beralih membicarakan hal penting lain yang merupakan inti dari pembahasan:

Artinya :Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (At-Tin/95:4-5)

Dalam surah ini Al Quran menyebutkan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk yang paling baik. Sayyid Qutub dalam Tafsirnya Fi Dzilalil Quran menyebutkan bahwa Ahsana Taqwim bukan hanya bermakna sempurna dari segi penciptaan fisik, namun juga sempurna dari segi akal dan potensi ([ii]).

Allah telah menciptakan manusia dengan potensi potensi istimewa yang dititipkan sejak kelahirannya, apalagi bila dikaitkan dengan tugas manusia sebagai kholifah di Bumi yang membutuhkan banyak potensi untuk memakmurkannya. Namun segala keistimewaan itu tidak bermanfaat bagi manusia bahkan akan menyebabkannya jatuh dalam lubang kehinaan jika tidak mendasari potensinya pada keimanan dan tidak menyalurkannya untuk amal sholeh.

Artinya: kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; maka mereka akan mendapat pahala yang tidak ada putus-putusnya. (At-Tin/95:6)

Potensi potensi manusia seperti kecerdasan, penguasaan teknologi, sumber daya alam, kepemimpinan dan aneka macam bakat yang dimiliki setiap orang, apabila terus dikembangkan dan digali akan semakin mensejahterakan ummat manusia. Namun apabila potensi tersebut disalah gunakan akan menyebabkan kehancuran, sebagaimana kerusakan yang terjadi di muka bumi akibat keserakahan, kesombongan dan ulah manusia (QS. Ar Rum:41). Potensi yang terus dikembangkan untuk beramal sholeh semata mata karena Allah akan menjadi luar biasa dan bernilai tinggi dimata Allah hingga disediakan ganjaran abadi yang tidak terputus di syurga kelak.

Setelah mendapatkan berbagai potensi, kenikmatan dan kemudahan, termasuk potensi akal; banyak manusia yang bersikap dzolim terhadap sesama dan mengutamakan kepentingan dirinya saja. Al Quran mengecam orang orang tersebut dan menggolongkan mereka sebagai orang yang tidak percaya dengan hari akhirat dan tidak percaya bahwa potensi potensi tersebut akan dimintai pertanggung jawaban.

Artinya : Maka apa yang menyebabkan (mereka) mendustakanmu (tentang) hari pembalasan setelah (adanya keterangan-keterangan) itu?. Bukankah Allah hakim yang paling adil? (At-Tin/95:7-8).

Menutup penjabaran surah ini, terdapat sebuah riwayat dari Abu Hurairah bahwa Nabi SAW, setiap selesai membaca surah ini selalu berkata “ Balaa wa ana zalika minassyahidin” Artinya : Benar, dan adalah aku membenarkan yang demikian itu (HR. Hakim). Ucapan ini adalah sebuah pengakuan dari kita yang membaca bahwa Allah swt adalah hakim yang paling adil lagi bijaksana.

[i].  Fakhruddin Ar Razi, Tafsir Al Kabir, (Cairo: Darr Al Ihya At Turots Al Arabi) Juz: 32, Hal:211
[ii]  Sayyid Qutub, Tafsir Fi Dzilalil Quran,( Bairut: Darr As Syuruq) Cet. 13, Juz: 6, Hal:3933

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *