Tafsir Surah Al Kautsar – Nikmat Yang Banyak

Tafsir Surah Al Kautsar : Nikmat Yang Banyak
Oleh : Hj. Ade Nailul Huda, MA, Ph.D @iiq.ac.id

Surah Al Kautsar adalah surah ke 108 berdasarkan urutan mushaf dan surah ke 15 berdasarkan urutan turunnya wahyu. Digolongkan dalam golongan surah Makiyyah karena diturunkan sebelum hijrah Nabi SAW ke kota Madinah. Surah ini adalah surah terpendek dalam Al Quran karena hanya berjumlah tiga ayat.

Artinya : Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. (Al-Kausar/108:1 )

Ada dua penafsiran terkait makna Al Kautsar yang digunakan para mufassir ; Yang paling populer Al Kautsar adalah nama telaga yang dianugerahi Allah kepada nabi Muhammad saw di Syurga, telaga Al Kautsar digambarkan oleh Nabi Saw:

Artinya : “Apakah kalian mengetahui apa itu al Kautsar? Para sahabat menjawab Allah dan Rasulnya lebih mengetahui. Rasul SAW bersabda: “Sesungguhnya al Kautsar adalah sungai yang Allah janjikan kepadaku, padanya terdapat banyak kebaikan dan (airnya akan mengaliri) telagaku yang akan didatangi oleh umatku pada hari kiamat   (HR. Muslim, No:400).

Gambaran telaga Al Kautsar diriwayatkan Al Bukhari dalam hadis Nabi saw: Artinya : Airnya lebih putih dari susu dan baunya lebih harum dari misk/kasturi (HR Bukhari,  No:6208), dan riwayat Muslim, Artinya: Dan (rasanya) lebih manis dari madu (HR. Muslim, No: 2301). Pendapat ini salah satunya digunakan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya (Ismail Bin Katsir, Tafsir Al Quran Al Adzim: 8/498).

Mufassir lainnya seperti Fakhruddin Ar Razi memilih  memaknai lafadz Al Kautsar yang berasal dari kata “Katsir” dengan makna “Kenikmatan yang banyak”. Penafsiran ini didasarkan pada beragamnya kenikmatan yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad dan Ummatnya. Diantara nikmat nikmat  tersebut adalah kenikmatan berupa kemudahan dalam perjalanan serta keamanan dari rasa takut dan kelaparan (QS. Al Quraisy), kenikmatan berupa pertolongan Allah terhadap Ka’bah dan kota Makkah dari serangan pasukan bergajah (QS. Al Fill), kenikmatan saat  diciptakannya manusia dengan potensi yang luar biasa (QS. At Tin), kenikmatan berupa pertolongan Allah kepada nabi Muhammad SAW dari keadaan nabi yang yatim lagi miskin dan keadaan bangsanya yang tersesat (QS. Ad Dhuha) dan berbagai nikmat lain yang sangat banyak. (Fakhruddin Ar Razi, At Tafsir Al Kabir : 32/308).

Apapun penafsiran yang tepat, yang jelas ayat ini bercerita mengenai kenikmatan yang mengharuskan adanya rasa syukur terhadap beragam kenikmatan yang Allah berikan tersebut dengan cara mendekatkan diri kepada Allah swt.

Artinya: Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah). (Al-Kausar/108:2)

Ada dua perintah yang ditunjukkan Al Quran melalui ayat ini sebagai upaya syukur kita kepada Allah swt, yaitu melalui sholat dan berkurban. Perintah sholat diberikan karena memang tujuan hidup manusia bahkan tujuan penciptaannya adalah untuk beribadah :

Artinya:  Dan tidaklah aku menciptakan Jin dan Manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku (QS.  Adz Dzariyat:56).

Artinya: Katakanlah sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah  Tuhan semesta alam (QS. Al An’am: 162)

Sedangkan makna kalimat wanhar (berkurban) memiliki penafsiran yang beragam : ada yang menafsirkannya secara khusus yaitu kurban yang disembelih saat hari raya Idul Adha (Hari Tasyriq ), ada juga yang memilih menafsirkannya secara umum yaitu berupa pengorbanan yang dilakukan manusia dalam berbagai hal, seperti berkurban harta, berkurban tenaga atau berkurban fikiran demi kemaslahatan umat dan didasari iman kepada Allah.  Ibnu Jarir At Thabari bahkan memaknai kalimat wanhar sebagai perintah Allah untuk menyembelih kemusyrikan, meninggalkan berhala dan makhluk atau hal lain sehingga amal ibadah kita hanya dimaksudkan untuk Allah swt semata (At Thabari, Tafsir Jami’ Al Bayan Fi Ta’wil Al Quran: 24/654).

Terkait beragam pendapat ini, Ibnu Katsir dalam tafsirnya memilih pendapat yang memaknai wanhar sebagai kurban yang dilaksanakan pada hari raya Idul adha, hal ini sesuai dengan hadis Nabi SAW yang memerintahkan pelaksanaan kurban dilaksanakan setelah sholat ied, hingga apabila kurban disembelih sebelum digelarnya sholat ied dianggap tidak sah. Perintah berkurban karena Allah ini juga diperintahkan untuk menghapus tradisi arab jahiliyah yang mempersembahkan korban untuk patung patung mereka (Ismail Bin Katsir, Tafsir Al Quran Al Adzim: 8/498).

Setelah menyebutkan beragam nikmat yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad saw dan ummatnya serta perintah untuk mensyukuri nikmat-nikmat tersebut. Allah swt mengecam orang orang kafir yang membenci Nabi Muhammad saw dengan menggolongkan mereka sebagai golongan yang terputus dari rahmat Allah swt :

Artinya :Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah). (Al-Kausar/108:3).

Terdapat pendapat lain dalam penafsiran makna Abtar (terputus) pada ayat ini, Mufassir Indonesia Muhammad Quraish Shihab memilih pendapat yang menyebutkan keadaan kaum kafir yang mengolok ngolok Nabi Muhammad karena kematian putra putranya, mereka mengatakan bahwa Muhammad telah terputus dengan terputus nasabnya dari anak laki lakinya. Ayat ini membantah pernyataan mereka dengan menegaskan bahwa bukan Nabi SAW yang terputus sebagaimana anggapan mereka, namun merekalah yang terputus dari rahmat Allah swt. Diantara bukti terputusnya mereka adalah kaum kafir Quraish yang ketika itu begitu membanggakan anak laki laki mereka yang banyak, kedudukan yang tinggi dan harta yang berlimpah. Namun mereka semua pada akhirnya terkalahkan dengan kemuliaan nabi Muhammad saw yang namanya tetap diingat setelah 14 abad kepergiannya. Bahkan beberapa penentang terkuat nabi tidak lagi dikenal namanya dan hanya dikenal julukannya yang hina seperti Abu Jahal. (Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah:15/668).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *