Telaah Qs. Ad-Dhuha: Mensyukuri Nikmat Jalan Menuju Kebahagiaan

Telaah Qs. Ad-Dhuha: Mensyukuri Nikmat Jalan Menuju Kebahagiaan
Oleh : Hj. Ade Nailul Huda, MA, Ph.D @iiq.ac.id

Surah Ad Dhuha adalah surah ke 93 dalam urutan mushaf, terdiri dari 11 ayat dan merupakan  golongan surah Makiyah karena diturunkan sebelum Nabi SAW hijrah ke Madinah. Surah ini turun setelah terhentinya wahyu selama beberapa hari kepada Rasulullah SAW sehingga sebagian kaum musyrik mengatakan Muhammad telah ditinggalkan dan dibenci oleh Tuhannya. Atas tudingan ini Al Quran menyanggah melalui firman Allah SWT:

Artinya:

Demi waktu dhuha (ketika matahari naik sepenggalah), Dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu, (Ad-Duha/93:1-3)

Prof. Quraish Shihab mengistilahkan waktu Dhuha di mana matahari naik sepenggalan sebagai kehadiran wahyu yang selama ini diterima Nabi SAW sebagai petunjuk yang menyinari, dan mengistilahkan waktu malam dengan ketidak hadiran wahyu kepada Rasulullah SAW yang membuatnya bersedih (Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah:15/379).

Surah ini merupakan janji Allah kepada Nabi SAW terkait risalahnya yang akan berkembang maju dan bahwa segala kesulitan yang didapati saat berdakwah akan dibalas oleh Allah dengan nikmat yang lebih banyak, bahkan sampai Nabi merasa puas:

Artinya:

Dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu dari yang permulaan. Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas. (QS. Ad Dhuha: 4-5)

Salah satu kaidah yang digunakan oleh mufassir dalam menelaah ayat ayat Al Quran adalah “Al-Ibroh bi ’umum al-Lafdzi la bi Khusus as-Sababi” yang dipahami bahwa sebuah ayat yang turun meskipun konteks penurunannya ditujukan untuk orang tertentu namun pengamalan serta ibroh (pelajaran) yang diberikan berlaku umum untuk semua orang yang meng-imani Al Quran. Secara umum surah ini dapat dipahami sebagai dorongan Al Quran kepada manusia untuk tidak berputus asa dengan beban kehidupan betapa-pun beratnya. Penyebutan waktu dhuha yang terang dan waktu malam yang gelap serta berganti gantinya dua waktu tersebut dalam sehari semalam dapat dikiaskan dengan datangnya kebahagiaan, keberuntungan, rezeki dan pencapaian hidup yang dapat berganti dengan kesedihan, kegagalan, kemiskinan dan kemunduran. Isyarat ini menegaskan bahwa hidup memang sebuah roda yang terus berputar bergantian di atas dan di bawah. Saat menemui kesedihan ingatlah bahwa akan ada kebahagiaan begitupun sebaliknya saat bahagia bersiaplah dengan kemungkinan datangnya kesedihan.

Pelajaran hidup ini dikuatkan dengan ayat selanjutnya yang mengingatkan nikmat nikmat yang Allah berikan. Nikmat adalah potensi, kebahagiaan dan keberuntungan yang diberikan Allah kepada manusia semasa hidup. Nikmat tersebut apabila diingat dan dijadikan perbandingan tentu saja lebih besar dibandingkan ujian dan cobaan yang Allah berikan hingga tidak sepatutnya manusia berputus asa. Bahkan sesungguhnya dibalik musibah pun selalu terdapat hikmah dan kebaikan. Hal ini disinggung Al Quran agar manusia mengingat melalui firman Nya:

Artinya:

Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(mu), Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk,Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.  (Ad-Duha/93:6-8)

Yatim berasal dari kata “yatama” yang berarti sendirian. Anak yatim adalah anak yang sendirian dan kehilangan ayah yang menopang kehidupannya. Dalam konteks pembahasan ini, seringkali manusia merasa sendirian, merasa jatuh dan membutuhkan sokongan. Kadang manusia juga merasa bingung dan seringkali kekurangan. Allah lah yang melindungi, memberikan petunjuk serta memberi kecukupan pada makhluk-Nya.

Bersyukur adalah jenis emosi positif pada manusia yang seringkali dicirikan sebagai kekhas-an orang beriman. Orang yang tidak bersyukur biasanya adalah orang yang tidak puas dengan dirinya sendiri, tidak puas dengan apa yang ia dapatkan, tidak puas dengan kehidupannya dan mengalami kesulitan untuk mencintai dirinya sendiri. Pada akhirnya tidak bersyukur dapat membuat manusia tidak menghargai hidupnya. Dengan kata lain bersyukur adalah proses menghargai hidup.

Salah satu cara bersyukur yang dituntun dalam Al Quran agar dapat mencapai kebahagiaan  adalah dengan mengingat nikmat Allah, mengingat nikmat juga berarti mengingat potensi (bakat) yang dimiliki, mengingat betapa beruntungnya kita, mengingat bahwa ujian yang didapati tidak seberapa dibandingkan besaran nikmat yang diperoleh, lalu mengingat betapa berharganya hidup dan diri kita sendiri sebagaimana disinggung ayat 6-8 di atas. Saat penghargaan diri melalui rasa syukur tersebut telah didapatkan, maka kita dapat mengoptimalkan potensi diri agar menjadi versi terbaik dari diri kita.

Orang beriman biasanya mewujudkan rasa syukur dengan lebih giat beribadah, lebih baik berprilaku dan lebih banyak berbagi. Itu sebabnya ayat selanjutnya memberikan petunjuk selanjutnya untuk meraih kebahagiaan melalui proses berbagi. Berbagi dengan cara yang santun dan tidak mencederai nilai kemanusiaan seseorang, berbagi tanpa mengecilkan, berbagi tanpa menghardik:

Artinya:

Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta janganlah engkau menghardik(nya). (Ad-Duha/93:9-10)

Berbuat baik pada orang lain pada hakekatnya adalah berbuat baik pada diri sendiri sebab manusia adalah makhluk sosial yang selalu terhubung dengan manusia lainnya. berbagi adalah salah satu terapi untuk merangsang kebahagiaan hidup. Dengan berbagi kita merasa diri kita berharga dan dibutuhkan orang lain. Dengan berbagi kita merasa berdaya sebagai manusia.

Pada akhirnya, orang beriman selalu meyakini bahwa segala nikmat, kebahagiaan, kelapangan bahkan timbulnya rasa syukur adalah nikmat dan pemberian Allah SWT. Mengingat nikmat nikmat Allah, terutama disaat mendapat musibah dapat membuat hati menjadi lebih tenang serta termotivasi untuk bangkit kembali, terlebih mengingat betapa besar nikmat, kasih sayang dan penjagaan Allah kepada hamba hamba-Nya. Sebab itulah surah ini ditutup dengan ayat:

Artinya:

Dan terhadap nikmat Tuhanmu hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur). (Ad-Duha/93:11)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *