Pesona Lailatul Qadar yang Sayang untuk Dilewatkan

Di setiap penghujung Ramadhan atau yang dikenal dengan sepuluh malam terakhir (‘Asyrul awakhir), banyak himbauan serta ajakan untuk meningkatkan ibadah supaya mendapatkan lailatul qadar. Lantas, apakah sebenarnya lailatul qadar itu? Adakah keistimewaan dan pesona yang membuat ketertarikan terhadapnya? Mari kita telaah bersama..!

Apa itu lailatul qadar?

Lailah berarti malam. Namun dalam penggunaanya, tidaklah sama antara lail (mudzakkar) dengan lailah (mu’annats). Lail bermakna waktu di malam hari secara umum yang biasa kita lalui setiap hari. Sedangkan lailah adalah malam khusus diantara malam-malam lainnya karena memiliki keistimewaan atau lain sebagainya.

Adapun makna Qadar, dalam Kitab Lailatul Qadar karya Syeikh DR. Ahmad Umar Hasyim dijelaskan bahwa terdapat tiga makna Qadar yang disematkan pada kata lailah (malam) dalam surah Al-Qadar:

  1. Qadar artinya mulia, istimewa dan agung

Lailatul qadar merupakan malam yang memiliki kemuliaan tersendiri dibanding malam-malam lainnya. Kemulian ini dikarenakan bertepatan dengan turunnya Al-Qur’an yang mulia, serta turunnya kasih-sayang, keberkahan, ampunan dan tanda-tanda kebesaran Allah SWT pada malam ini.

  1. Qadar maksudnya dhayiq (sempit, sesak)

Saat lailatul qadar, Bumi sesak dan sempit karena turunnya para Malaikat dari langit. Kesesakan ini tidak bisa dirasakan manusia biasa, karena sifatnya ghaib dan metafisika. Selain itu, malam ini disebut qadar (sempit) karena tidak diketahui kapan kepastian terjadinya perisitwa yang dinanti-nanti ini. Waktunya adalah rahasia Allah SWT.

  1. Qadar adalah ketentuan hukum sunnatullah

Pada malam ini, Allah menentukan perkara-perkara dan hukum-hukum sunnatullah serta hal-hal yang akan terjadi kepada makhluk di alam semesta ini yang kita kenal dengan istilah qadha dan qadar.

Dari tiga makna etimologi di atas menunjukkan bahwa lailatul qadar memiliki keistimewaan tersendiri, bukanlah malam yang biasa-biasa saja, yang boleh terlewatkan begitu saja.

Apa Istimewanya Lailatul Qadar?

Di dalam Al-Qur’an surah al-Qadar ayat 2-3, Allah mengajak kita untuk lebih mengenal lailatul qadar dengan bentuk ungkapan pertanyaan lalu jawabannya ditegaskan pada ayat setelahnya,

وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ(3)

“Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?(2)  Malam kemuliaan itu lebih baik dari pada seribu bulan (3)”

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan riwayat dari Mujahid bahwa Rasulullah pernah bercerita tentang seseoang dari Bani Israil yang selama seribu bulan ikut berperang dan mampu berjihad di siang hari, menghidupkan malam dengan ibadah kepada Allah di malam hari hingga fajar. Dalam riwayat lainnya dari Ali bin Urwah, Rasulullah juga pernah bercerita tentang seseorang dari Bani Israil yang mampu beribadah selama 80 tahun berturut-turut, tidak pernah bermaksiat kepada Allah sedetikpun. Sahabat yang mendengar cerita ini merasa takjub, termotivasi dan iri kepada mereka yang mampu istiqomah beribadah dan taat dalam jangka waktu yang panjang.

Namun kemudian Jibril mewahyukan kepada Rasulullah SAW bahwa Umat Islam memiliki lailatul qadar yang Allah jelaskan dalam surah al-Qadar. Lalu Jibril berkata,

هَذَا أَفْضَلُ مِمَّا عَجِبْتَ أَنْتَ وَأُمَّتُكَ

“Ini (lailatul qadar) lebih baik dari apa yang membuatmu dan ummatmu takjub”

Jika kita konversi hitungan 1000 bulan, sama dengan 83 tahun lebih. Apabila kita shalat tepat dengan turunnya lailatul qadar, maka pahala yang kita raih sama dengan shalat selama 83 tahun tersebut. Jika kita membaca Al-Qur’an di malam saat turunnya lailatul qadar, kita akan mendapatkan pahala kebaikan 1 huruf dikali 10 kebaikan lalu dikali 83 tahun. Berapakah kira-kira jumlahnya??? Betapa dahsyat bukan??? Dan Allah menyebutkan kata “khairun min alfi syahr” lebih baik dari 1000 bulan. Itu artinya jangan terpaku pada jumlah 83 tahun ini, bisa jadi lebih banyak lagi. Bisa 85, 87, 90 dan seterusnya sesuai dengan kehendak Allah SWT.

Lantas, alangkah meruginya jika kita tidak berusaha, berupaya dan bersungguh-sungguh untuk mendapatkan lailatul qadar tersebut . Karena kita tahu, usia ummat Nabi Muhammad rata-rata berkisar antara 60-70 tahun saja. Rasulullah SAW bersabda dalam riwayat Abu Hurairah,

أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ (رواه الترمذي)

“Umur umatku antara 60 hingga 70 tahun dan sedikit diantara mereka yang melebihi itu.” (HR. al-Tirmidzi)

Kita tidak tahu sampai di angka berapa penghujung usia kita? Tidakkah kita mau berjuang untuk meraih lailatul qadar yang merupakan hadiah istimewa dan kompensasi usia yang Allah berikan untuk kita? Maa syaa Allah… Allahu Akbar…!

Kapan Perkiraan Terjadinya Lailatul Qadar?

Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW tidak menentukan secara pasti lailatul Qadar jatuh pada tanggal sekian. Namun, kita mendapat petunjuk bahwa lailatul qadar akan muncul di ‘asyrul awakhir (sepuluh malam terakhir) khususnya di malam-malam ganjil. Rasulullah pernah memerintahkan kepada isterinya, Aisyah RA,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِن الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ (رواه البخاري)

“Carilah Lailatul Qadar pada malam yang ganjil dalam sepuluh malam yang akhir dari Ramadhan”. (HR. al-Bukhari)

Lebih spesifik lagi, riwayat Ibnu Umar menegaskan,

اِلْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ يَعْنِي لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلَا يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِي (رواه مسلم)

“Carilah ia (yakni Lailatul Qadar) pada sepuluh terakhir (Ramadhan). Maka jika salah seorang dari kalian tidak sempat atau tidak mampu, maka jangan sampai terlewatkan tujuh malam terakhir.” (HR. Muslim)

Dua riwayat ini saling berkaitan erat, bahwa lailatul qadar ada di ‘asyrul awakhir bagian malam-malam ganjil, kemudian ditegaskan lagi terdapat pada 7 malam terakhir Ramadhan. Bukankan saat ini adalah waktu yg tepat untuk mencari lailatul qadar? Jangan sampai kita ketinggalan! Mari, kita perjuangkan bersama in syaa Allah…!

Cara yang sangat tepat untuk menggapai lailatul qadar yaitu dengan memperbanyak ibadah, khususnya qiyamul lail (menghidupkan malam). Rasulullah bersabda dalam riwayat Abu Hurairah,

مَنْ يَقُمْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ (متفق عليه)

“Barangsiapa menghidupkan lailatul qadar karena Iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”

Syarat mendapatkan ampunan dosa dalam hadits ini adalah harus benar-benar dalam kondisi kesadaran beriman dan penuh pengharapan kepada Allah SWT.Tidak ada secuilpun riya’, sedikitpun ingin dipuji, atau berharap selain ridho Allah SWT. Jika dua syarat ini terpenuhi, tiket penghapusan dosa akan diraih. Ditambah pula bonus tiket pahala ibadah selama 83 tahun lebih. Maa syaa Allah… Betapa Maha Rahman Rahimnya Allah kepada kita ummat Nabi Muhammad SAW.

Terakhir, terdapat riwayat yang berisi percakapan antara Rasulullah SAW dengan Siti Aisyah RA tentang dzikir atau ucapan apa yang harus dilafalkan saat mengetahui turunnya lailatul qadar,

 عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا؟ قَالَ: قُولِي اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي (رواه الترمذي وابن ماجه)

“Dari Aisyah ia berkata; wahai Rasulullah, apabila aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar, maka apakah yang harus aku ucapkan saat itu? Rasulullah menjawab: “Ucapkanlah ALLAAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN KARIIMUN TUHIBBUL ‘AFWA FA’FU ‘ANNII (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi ampunan dan Maha Pemurah, Engkau senang memberikan ampunan, maka ampunilah aku) (HR. Tirmidzi & Ibnu Majah)

Wallahu a’laa wa a’lamu bis shawwaab…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *