Mengupas Sejarah Puasa Ramadhan

Oleh : Badrina Alfi, Lc., M.Ag 

Puasa bagi umat Islam memiliki makna yang sangat mendalam dalam rangka penghambaan manusia kepada Allah SWT. Puasa tidak hanya ibadah yang memerlukan peran fisik, tetapi juga memerlukan kesehatan batin, bahkan mampu menyempurnakan batin menjadi hamba yang bertakwa. Takwa yang merupakan muara akhir dari perintah puasa dijelaskan dalam Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 183:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).

Potongan ayat كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ (…sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian…) menjelaskan bahwa ibadah puasa tidak hanya diwajibkan kepada umat Rasulullah saw, tetapi juga kepada umat-umat sebelumnya, dan ini merupakan titik awal mengupas sejarah puasa, khususnya puasa Ramadhan.

Sejarah kewajiban puasa Ramadhan tidak terlepas dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW ke negeri Yatsrib (Madinah). Sebab peristiwa tersebut merupakan titik pijak penyempurnaan syariat Islam di kemudian hari. Puasa Ramadhan diwajibkan kepada Nabi Muhammad dan umatnya pada bulan Sya’ban tahun ke-2 hijriah dengan cara dan model yang dilakukan umat Islam hingga kini. Meski demikian, sebagaimana pensyariatan ibadah lain, ibadah puasa disyariatkan secara bertahap, bukan diberikan sekaligus dengan waktu dan tata cara seperti yang kita kenal sekarang.

Ada beberapa fase pensyariatan di dalamnya. Fase itu tentu berjalan sesuai dengan hikmah, kasih sayang, dan kelembutan Allah, Zat pemberi syariat kepada hamba-Nya. Syekh Khalid bin ‘Abdurrahman menyebutkan fase tersebut dalam kitabnya (As-Shaumu Junnatun):

المرحلة الأولى: الأمر بصيام ثلاثة أيام البِيض من كلِّ شهر قمري، وصيام يوم عاشوراء (العاشر من المُحرَّم) ، والحثُّ المؤكَّد على ذلك. عن جابر بن سَمُرة رضي الله عنه، قال: (كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يأمرنا بصيام يوم عاشوراء، ويحثُّنا عليه، ويتعاهدُنا عنده، فلما فُرض رمضانُ لم يأمرْنا، ولم يَنْهَنا، ولم يتعاهدْنا عنده).  وعن معاذِ بن جبلٍ رضي الله عنه أن رسولَ الله صلى الله عليه وسلم كان يصوم ثلاثة أيام من كلِّ شهر، ويصوم يوم عاشوراء، فأنزل الله: {كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ} [البَقَرَة: 183] ، فكان من شاء أن يصوم صام، ومن شاء أن يُفطِر ويُطعِم كلَّ يوم مسكينًا أجزأه ذلك.

Fase Pertama: Adanya perintah berpuasa ayyamul bidh (puasa tiga hari pada) setiap bulan hijriyah dan puasa ‘Asyura setiap tanggal 10 Muharram. Bahkan, puasa ‘Asyura sangat dianjurkan oleh Rasulullah saw sebagaimana riwayat Muslim (nomor 1128) dari Jabir bin Samurah. Jabir menyebutkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintah kami berpuasa ‘Asyura. Beliau pun mendorong kami dan meminta kesanggupan kami menunaikannya. Namun, ketika puasa Ramadhan difardhukan, beliau tak lagi memerintah kami, tidak lagi melarang kami, dan tidak lagi meminta kesanggupan kami.”

المرحلة الثانية: التخيير في صيام عاشوراء، وكان ذلك بعد الأمر بصيام أيام معدودات، التي هي عِدَّة أيام شهر رمضان، وذلك في قوله تعالى: (يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ . أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ) . وقد صام النبيُّ صلى الله عليه وسلم عاشوراءَ، وأمر بصيامه، فلما فُرض رمضانُ تُرِك. وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (إن عاشوراءَ يوم من أيام الله، فمن شاء صامه ومن شاء تركه).

Fase Kedua: Memberikan pilihan antara melaksanakan puasa ‘Asyura atau tidak, hal ini terjadi setelah adanya perintah puasa beberapa hari pada bulan Ramadhan. Sebagaimana firman Allah swt: “Wahai orang-orang yang beriman, Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (yaitu) dalam beberapa hari tertentu. Barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajib baginya mengganti) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

Rasulullah saw melaksanakan puasa ‘Asyura dan memerintahkan yang lain untuk berpuasa, setelah diwajibkan puasa Ramadhan beliau meninggalkannya.

Rasululllah saw bersabda: “Sesungguhnya hari Asyura adalah hari di antara hari-hari Allah. Siapa yang ingin melaksanakannya silahkan, dan siapa yang tidak ingin melaksanakannya tidak mengapa.”

المرحلة الثالثة: الترخيص بالإفطار في رمضان للقادر على الصيام، مع إيجاب الفدية عليه، فقد كان من شاء صام، ومن شاء أفطر وأدى الفدية؛ حيث إن الصحابة رضي الله عنهم كانوا قومًا لم يتعوَّدوا الصيام، وكان الصيام عليهم شديدًا. قال الله تعالى: وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ .

Fase Ketiga: Keringanan berbuka puasa Ramadhan bagi yang mampu asalkan mengeluarkan kewajiban fidyah. Artinya, siapa yang mau berpuasa, maka ia dapat menunaikannya. Yang tidak mau, ia boleh meninggalkannya asalkan menunaikan fidyah.

Ketentuan ini terjadi karena mungkin pada saat itu masih banyak sahabat yang belum terbiasa berpuasa sehingga puasa akan memberatkan mereka. Hal ini berdasarkan firman Allah swt: “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin,” (QS Al-Baqarah: 84).

المرحلة الرابعة: نَسْخُ هذا الترخيص عند القدرة على الصيام، وذلك بقوله تعالى: (فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ .) [البَقَرَة: 185] . فعن سلمةَ بن الأكوعِ رضي الله عنه، قال: لما نزلت هذه الآية: وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ  [البَقَرَة: 184] كان من أراد أن يفطر ويفتدي، حتى نزلت الآية التي بعدها فنسختها . فصار الأمر بهذه المرحلة أن كلَّ مَن شَهِد استهلال شهر الصوم دخوله من المسلمين، فقد وجب صيامه عليه، ولا رخصةَ له بالإفطار حال كونه قادراً على الصيام، حتى لو أدّى فديةً طعام مسكين.

Fase Keempat: Keringanan berbuka puasa bagi yang mampu dihapus. Hal itu berdasarkan ayat, “Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain,” (QS Al-Baqarah: 185). Dalam kaitan ini, Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Salamah bin Al-Akwa‘ menuturkan, “Ketika turun ayat, ‘Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin,’ (QS Al-Baqarah: 184), maka siapa yang mau berbuka, maka berbukalah tetapi harus berfidyah.”

Ketentuan itu berlangsung terus sampai dihapus dengan ayat setelahnya. Dengan demikian, setelah turun ayat penghapus, muslim pun yang menyaksikan hilal Ramadhan wajib berpuasa. Tidak ada lagi keringanan berbuka selama mampu.

المرحلة الخامسة: تخصيص الترخيص بالإفطار في رمضان في حالين: الأول: المرض في البدن الذي يشق معه الصيام، أو يؤدي إلى تأخُّر بُرْءِ المريض، أو يتسبب بزيادة مرضه، والثاني: حال السفر؛ بأن كان متلبِّسًا بالسفر وقت طلوع الفجر، فله في هذين الحالين أن يُفطِر، ثم يقضي بعد رمضان صيام أيامٍ عددَ ما أفطره حال المرض أو السفر. قال تعالى: {وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ} . [البَقَرَة: 185]

Fase Kelima: Keringanan berbuka di bulan Ramadhan hanya diberlakukan dalam dua keadaan. Pertama: Orang yang sakit. Puasa dapat memberatkan atau memperlambat kesembuhannya. Kedua: Orang yang bepergian jauh, terutama berpergian yang dilakukan sejak terbit fajar. Orang yang menghadapi salah satu dua keadaan ini boleh berbuka dan mengqadhanya di hari yang lain sebanyak hari yang ditinggalkan sebagaimana firman Allah swt: “Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain,” (QS Al-Baqarah: 185).

Melalui beberapa tahapan di atas, maka tetaplah pensyariatan puasa Ramadhan wajib dilakukan setiap muslim selama satu bulan kecuali yang sedang sakit atau berpergian jauh. Semua tahapan dan ketentuan ini tidak terlepas dari hikmah, kasih sayang, dan kelembutan Allah kepada hamba-Nya.

Wallahu A’lam ..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *