Mendulang Pahala & Gapai Kemuliaan dengan Membaca Al-Qur’an; Why Not?!

Oleh : Hj. Sariyah, Lc., M.TH.I

Al-Qur’an merupakan Kitab suci pedoman hidup Ummat Islam yang diturunkan kepada Nabi Akhir Zaman. Kitab ini menjadi mukjizat terbesar yang Allah karuniakan teruntuk Nabi Muhammad SAW dan merupakan bukti Kasih sayang Allah SWT kepada Ummat Nabi Muhammad. Apa saja dan bagaimana bentuk Kasih sayang Allah dengan menurunkan Al-Qur’an? Mari kita telaah bersama dengan hati yang jernih dan lapang! 

Membaca Al-Qur’an bernilai pahala yang amat besar

Al-Qur’an diturunkan dalam Bahasa Arab. Maka wajib hukumnya bagi Ummat Islam untuk mempelajari tata-cara membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar meskipun kita bukan bangsa Arab. Setiap usaha dalam mempelajari Al-Qur’an tidaklah sia-sia begitu saja. Ada pahala yang Allah janjikan bagi orang yang membaca Al-Qur’an meskipun membaca dengan terbata-bata. Dalam Hadits yang diriwayatkan Aisyah RA menyebutkan bahwa, 

  الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ (رواه البخاري و مسلم)

“Orang yang mahir membaca Al Qur`an, maka kedudukannya di akhirat ditemani oleh para malaikat yang mulia. Dan orang yang membaca Al Qur`an dengan gagap, ia sulit dalam membacanya, maka ia mendapat dua pahala.” (HR. al-Bukhari & Muslim)

Hadits ini menegaskan bahwa ada dua golongan dalam membaca Al-Qur’an. Golongan pertama, mereka yang sudah lancar dan mahir membaca Al-Qur’an akan dikumpulkan bersama kelompok Malaikat yang bernama as-Safarah al-Kiram al-Bararah. Dalam Al-Qur’an Surah ‘Abasa ayat 13-16 juga menegaskan karakteristik kelompok Malaikat ini :

فِي صُحُفٍ مُكَرَّمَةٍ (١٣) مَرْفُوعَةٍ مُطَهَّرَةٍ (١٤) بِأَيْدِي سَفَرَةٍ (١٥) كِرَامٍ بَرَرَةٍ) ١٦(

“Di dalam kitab-kitab yang dimuliakan (di sisi Allah) (13) Yang ditinggikan lagi disucikan (14) di tangan para utusan (Malaikat) (15) Yang mulia lagi berbakti (16)

Lantas, siapakah mereka? Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa Malaikat as-Safarah al-Kiram al-Bararah adalah Malaikat pembawa Kalamullah yang memiliki paras yang mulia lagi suci dan mempunyai akhlak yang baik serta agung. Dalam Tafsir al-Thabari juga dijelaskan bahwa Malaikat ini merupakan penghubung antara Allah dan Rasul-Nya, yang memiliki kesucian dan kemuliaan di sisi Allah SWT. Orang-orang yang akan dikumpulkan bersama Malaikat ini tentunya merupakan orang-orang pilihan yang juga mempunyai kesucian dan kemuliaan. Tidakkah kita memiliki keinginan dan harapan dikumpulkan bersama mereka kelak? Karena itu, marilah kita berusaha terus memperbaiki bacaan Al-Qur’an kita.

Golongan kedua yang disebutkan dalam hadits di atas adalah golongan yang yatata’ta’; yang masih kesulitan, masih tebata-bata, masih gagap dalam membaca Al-Qur’an. Bagi golongan ini Allah tidak sia-siakan usaha mereka. Allah anugerahkan kepada mereka dua pahala kebaikan dari Al-Qur’an. Setiap kesukaran dalam membaca Al-Qur’an pun menjadi jalan untuk meraih pahala kebaikan. Maa Syaa Allah…!

Yang lebih dahsyat lagi, dalam Hadits riwayat Ibnu Mas’ud disebutkan bahwa:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ (رواه  الترمذي

“Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah (Al Qur`an), maka baginya satu pahala kebaikan dan satu pahala kebaikan akan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat, aku tidak mengatakan ALIF LAAM MIIM itu satu huruf, akan tetapi ALIF satu huruf, LAAM satu huruf dan MIIM satu huruf.” (HR. al-Tirmidzi)

Hadits ini menjelaskan bahwa setiap huruf di dalam Al-Qur’an memiliki satu kebaikan dikali sepuluh. Bahkan Nabi Muhammad sendiri menegaskan bahwa “Alif Lam Mim” itu bukan satu huruf, namun Alif dihitung satu huruf, Lam dihitung satu huruf, Mim dihitung satu huruf. Jika “Alif Lam Mim” saja berarti 3 huruf = 3 kebaikan dikali 10 menjadi 30 kebaikan, bagaimana jika kita membaca Al-Qur’an seluruhnya? Adakah yang bisa menghitungnya?

Secara tidak kita sadari, bahwa Allah ingin mendekatkan hidup kita dengan Al-Qur’an sedekat mungkin serta membagi kebaikan di dalamnya tanpa pilih kasih dan pamrih. Hal ini terbukti dengan pembacaan surah al-Fatihah di setiap shalat lima waktu. Tidak sah shalat seseorang jika tidak membaca surah al-Fatihah. Kita diwajibkan untuk membaca al-Fatihah yang merupakan bagian dari Al-Qur’an. Betapa Maha Rahim-Nya Allah kepada kita Ummat Islam. 

Mari kita berhitung…!

Surah al-Fatihah memiliki 7 ayat dan jumlah huruf di dalamnya ada sekitar 140 huruf (tanpa hitungan double untuk huruf yang panjang (mad) dan huruf ganda (mudha’af)). Jika 140 huruf x 10 kebaikan = 1.400 kebaikan dikali 17 rakaat shalat wajib kita dalam sehari semalam, maka menjadi dua puluh tiga ribu delapan ratus kebaikan. Ini baru al-Fatihah yang dibaca dalam shalat wajib kita, apalagi jika tilawah Al-Qur’an menjadi keseharian kita yang tidak pernah ditinggalkan. Dan ini hanya perhitungan kasar serta belum dikali lipat. Sedangkan kita tahu bahwa jika Allah berkehendak, maka pahala kebaikan akan dilipatgandakan menjadi berpuluh-puluh ribu kali lipat tak terhingga. Allahu Akbar…!

Meskipun demikian, hitungan ini jangan membuat kita “perhitungan” kepada Allah dengan setiap amal kebaikan yang kita lakukan. Karena, kita tidak tahu apakah pahala kebaikan yang sudah kita raih akan menjadi tabungan di Akhirat kelak atau tidak. Kita tidak tahu apakah pahala itu akan menjadi penghapus dosa atau tidak. Semua atas Kehendak Allah Sang Maha kuasa. Cukuplah kita meyakini bahwa Allah Maha teliti dan tidak akan menyia-nyiakan semua usaha Hamba-Nya. 

Selain itu, dengan hitungan ini janganlah kita merasa cukup hanya membaca al-Fatihah, lantas enggan membaca Al-Qur’an lagi. Boleh jadi kesalahan dan dosa kita jauh lebih banyak, sehingga belum bisa ditutup dengan hanya membaca al-Fatihah dalam shalat lima waktu saja. Kita perlu berusaha menimbun pahala sebanyak mungkin sebagai penghapus dosa dan juga sebagai bekal untuk perjalanan menuju Syurga. 

Belum cukup sampai disini, Allah juga berikan bonus tiket syafa’at kelak pada hari kiamat bagi orang yang gemar membaca Al-Qur’an. Dalam Hadits riwayat Abi Umamah, Rasulullah bersabda,  

اِقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ (رواه مسلم

“Bacalah Al-Qur`an, karena ia (Al-Qur’an) akan datang memberi syafa’at kepada para pembacanya pada hari kiamat nanti.” (HR. Muslim)

Kita semua pasti berharap mendapatkan syafa’at di Hari Kiamat Kelak. Dan salah satu caranya adalah dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an. Bukankan ini semua menunjukkan betapa Sayangnya Allah kepada Kita Ummat Islam? Mari kita berfikir…!

Allah Mudahkan Al-Qur’an untuk dibaca & ditelaah

Jika ada pertanyaan yang terlontar, Al-Qur’an adalah Kalamullah, wahyu Tuhan. Bagaimana mungkin bisa dipahami dan dimengerti oleh Manusia sebagai Makhluk ciptaan Tuhan?

Dalam surah al-Qamar Allah mengulang-ulang ayat berikut sebanyak empat kali (ayat 17, 22, 32 dan 40) :

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

“Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?”

Dalam Tafsir Ibnu Kathir disebutkan bahwa ayat ini menegaskan tentang kemudahan dari Allah untuk melafalkan Al-Qur’an dan menelaah makna yang terkandung di dalamnya sebagai bentuk peringatan untuk manusia. Bahkan al-Dhahhak meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa: 

لولا أن الله يسره على لسان الأدميين ما استطاع أحد من الخلق أن يتكلم بكلام الله عز وجل

“Jikalau Allah tidak memberi kemudahan kepada lisan manusia (Bani Adam), niscaya tidak seorangpun dari Makhluk yang mampu berbicara dengan Kalamullah Azza Wajalla”

Oleh karena itu. Mari kita selami Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Belum cukup hanya dengan mengaji saja, tapi juga perlu mengkaji maknanya. Agar pesan Ilahi mudah terpatri dalam sanubari kita semua. 

Karena, Semua yang punya kedekatan dengan Al-Qur’an maka akan Allah muliakan.  Syeikh Ahmad Isa Al-Ma’ashrawi mengatakan: 

عَجَبًا لِأَمْرِ الْقُرْآنِ نَزَلَ جِبْرِيْلُ بِهِ فَأَصْبَحَ أَفْضَلَ الْمَلَائِكَةِ نَزَلَ عَلىَ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم فَأَصْبَحَ سَيِّدَ الْخَلْقِ نَزَلَ عَلىَ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ فَأَصْبَحَتْ خَيْرَ أُمَّةٍ نَزَلَ فىِ رَمَضَانَ فَأَصْبَحَ خَيْرَ الشُّهُوْرِ نَزَلَ فىِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ فَأَصْبَحَتْ بِأَلْفِ شَهْرٍ فَمَاذَا لَوْ نَزَلَ فِي قُلُوبِنَا

“Betapa dahsyatnya perkara Al-Qur’an….

Al-Qur’an diturunkan melalui Malaikat Jibril, maka ia menjadi Malaikat paling utama.

Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad, maka beliau menjadi pemimpin seluruh Makhluk.

Al-Qur’an diturunkan kepada Ummat Nabi Muhammad, maka Ummat ini menjadi sebaik-baik Ummat.

Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan, maka bulan ini menjadi bulan terbaik.

Al-Qur’an diturunkan pada malam lailatul Qadar, maka malam ini menjadi malam lebih mulia dari seribu bulan.

Lalu, bagaimana jika Al-Qur’an diturunkan ke hati kita???”

Wallahu a’laa wa a’lamu bi as-shawwab.

اللّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قُلُوْبِنَا وَنُوْرَ صُدُوْرِنَا وَجَلَاءَ أَحْزَانِنَا وَذَهَابَ هُمُوْمِنَا

“Ya Allah jadikanlah Al-Qur’an sebagai penyejuk hati kami, cahaya yang menyinari dada kami, pelipur duka lara kami dan penghapus kesedihan kami.”

اللّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يَقْرَؤُهُ فَيَرْقَى وَلَا تَجْعَلْنَا مِمَّنْ يَقْرَؤُهُ فَيَزِلُّ وَ يَشْقَى

“Ya Allah jadikanlah kami termasuk yang membaca Al-Qur’an lalu meningkat derajatnya, Jangan jadikan kami orang yang membacanya lalu tergelincir dan menderita.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *