Back

MACAM-MACAM TAKDIR DALAM AL-QURAN

Oleh : Ustadzah Dr. Hj. Ade Naelul Huda, MA, Ph.D
adenaelulhuda@iiq.ac.id
(Guru Bidang Ilmu Al-Quran dan Tafsir di Pondok Pesantren Attaqwa Putri)

Ayat-ayat yang berkenaan dengan takdir disebutkan Al-Quran di dalam 120 ayat dan 28 surat, dari 120 ayat tersebut 80 ayat turun di Mekkah yang disebut juga ayat makkiyyah, dan 40 ayat turun di Madaniah yang disebut ayat madaniyyah. Ayat-ayat yang mengulas masalah takdir pada umumnya terbagi menjadi tiga aspek;  Pertama; ayat yang berbicara tentang kekuasaan mutlak Allah swt sebagai tuhan semesta alam. Kedua; ayat Al-Qur’ān yang berhubungan dengan takdir Allah yang memerlukan ikhtiar manusia. Ketiga, ayat Al-Qur’ān yang berhubungan dengan penciptaan alam. Para ulama membagi takdir dalam berbagai versi, mayoritas takdir dibagi menjadi dua yaitu takdir Mubram dan takdir muallaq. Namun pembagian takdir juga dapat dibagi menjadi versi lain yang lebih rinci, yaitu :

  1. Takdir Mubram

      Takdir Mubram adalah ketentuan yang bersifat pasti dan tidak dapat diubah oleh siapapun. Ini juga dikenal dengan takdir mutlak, misalnya takdir bahwa manusia pasti mati, alam semesta pada akhirnya akan binasa (kiamat) dan sebagainya.

      اَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يُدْرِكْكُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِيْ بُرُوْجٍ مُّشَيَّدَةٍ ۗ وَاِنْ تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَّقُوْلُوْا هٰذِهٖ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ ۚ وَاِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَّقُوْلُوْا هٰذِهٖ مِنْ عِنْدِكَ ۗ قُلْ كُلٌّ مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِ ۗ فَمَالِ هٰٓؤُلَاۤءِ الْقَوْمِ لَا يَكَادُوْنَ يَفْقَهُوْنَ حَدِيْثًا

      Artinya: Di mana pun kamu berada, kematian akan mendatangimu, meskipun kamu berada dalam benteng yang kukuh (QS. Annisa [4]:78)

      2. Takdir Muallaq

      Takdir Muallaq adalah ketentuan Allah swt berdasarkan sebab dan akibat dan dipengaruhi oleh situasi serta kondisi, seperti, misalnya seorang yang rajin belajar bisa dipastikan ia akan menjadi pandai. Seseorang yang berbuat baik, biasanya akan menuai hasil kebaikannya, seseorang yang rajin bekerja akan mendapat hasil lebih banyak dari orang yang malas bekerja, dan sebagainya. Seringkali jenis takdir ini diskenal dengan takdir ikhtiari (pilihan) atau takdir iktisabi (usaha). Hal ini disebutkan dalam Al-Quran misalnya pada ayat berikut

      اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ

      Artinya: Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka (QS. Ar-Ra’ad [13] : 11).

      3. At-Taqdῑrul ‘ām (takdir yang bersifat umum)

      At-Taqdῑrul ‘ām adalah ketentuan Allah yang berlaku untuk semua makhluk ciptaannya, baik manusia, hewan maupun tumbuhan. Biasanya hal ini dikaitkan dengan peristiwa alam yang terus menerus terjadi dan menjadi sunnatullah, seperti kelahiran dan kematian, gugurnya daun daun, peristiwa di daratan dan lautan, hukum rimba, faktor psikologi yang menentukan sebuah keputusan dan sebagainya. Terkadang orang menyebutkan sebagai ketetapan semesta. Konsep semesta dan ajaran Islam dibedakan dari kepercayaan bahwa dalam Islam hukum alam ini diyakini tidak akan terjadi tanpa izin dan ketetapan Allah swt pemilik alam semesta. Dalam Al-Quran hal ini diisyaratkan pada ayat berikut:

       وَعِنْدَهٗ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ اِلَّا هُوَۗ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِۗ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَّرَقَةٍ اِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِيْ ظُلُمٰتِ الْاَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَّلَا يَابِسٍ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ

      Artinya : Kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahuinya selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan (tertulis) dalam kitab yang nyata (Lauhulmahfuz). (QS. Al-An’am [6]:59)

      4. At-Taqdῑr al-Basyari (takdir yang berlaku untuk manusia secara khusus)

      At-Taqdῑr al-Basyari adalah takdir yang di dalamnya Allah mengambil janji atas semua manusia bahwa Dia adalah Rabb mereka, dan menjadikan mereka sebagai saksi atas diri mereka akan hal itu, serta Allah menentukan di dalamnya orang-orang yang berbahagia dan orang-orang yang celaka. Peristiwa perjanjian antara manusia dan Rabb-nya ini dicatat dalam QS Al-A’raf.

      وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَا ۛاَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَۙ

      Artinya : (Ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari tulang punggung anak cucu Adam, keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksiannya terhadap diri mereka sendiri (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami melakukannya) agar pada hari Kiamat kamu (tidak) mengatakan, “Sesungguhnya kami lengah terhadap hal ini,” (QS. Al-A’raf [7]: 172)

      5. At-Taqdῑr al-‘Umri (takdir yang berlaku selama usia)

      Ialah segala takdir yang terjadi pada makhluk ciptaan Allah dari awal kehidupannya hingga akhir ajalnya, termasuk ketetapan apakah ia termasuk golongan yang sengsara atau bahagia. Takdir usia ini juga mencakup rezeki, ajal, jodoh, dan amal perbuatan mereka yang ditentukan saat mereka berada di dalam kandungan ibu mereka. Hal ini ditunjukkan oleh hadis Muhammad saw dalam Shahiihain dari Ibnu Mas’ud :

      إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ… .(رواه المسلم)[1]

      Artinya : “Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal darah seperti itu pula (empat puluh hari), kemudian menjadi segumpal daging seperti itu pula, kemudian Dia mengutus seorang Malaikat untuk meniupkan ruh padanya, dan diperintahkan (untuk menulis) dengan empat kalimat: untuk menulis rezeki, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagia (nya)… .” (HR. Muslim)

      6. At-Taqdῑr Al-Sanawi (takdir yang berlaku tahunan)

      Takdir tahunan adalah takdir yang ditetapkan setiap tahun yang menurut beragam kitab tafsir ditentukan saat malam Lailatul Qadar.[2]

      اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ سَلٰمٌ ۛهِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ࣖ

      Artinya : Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada Lailatulqadar. Tahukah kamu apakah Lailatulqadar itu? Lailatulqadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Rūḥ (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar. (QS. Al Qadr [97]: 1-5)

      Hal ini juga diisyarakan dalam firman Allah:

      فِيْهَا يُفْرَقُ كُلُّ اَمْرٍ حَكِيْمٍۙ٤

      Artinya : “Pada (malam itu) dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.”[3] (QS. Ad-Dukhan [44]: 3)

      7. At-Taqdῑr al-Yaumi (takdir yang berlaku harian)

      Takdir ini adalah pelaksanaan takdir pada seorang hamba pada waktu yang telah ditentukan bahwa ia akan mendapatkan takdir itu tanpa maju atau mundur sesaat pun. Dalam Al-Quran Allah swt berfirman:

      وَمَا تَكُوْنُ فِيْ شَأْنٍ وَّمَا تَتْلُوْا مِنْهُ مِنْ قُرْاٰنٍ وَّلَا تَعْمَلُوْنَ مِنْ عَمَلٍ اِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُوْدًا اِذْ تُفِيْضُوْنَ فِيْهِۗ وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَّبِّكَ مِنْ مِّثْقَالِ ذَرَّةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِى السَّمَاۤءِ وَلَآ اَصْغَرَ مِنْ ذٰلِكَ وَلَآ اَكْبَرَ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ

      Artinya: Engkau (Nabi Muhammad) tidak berada dalam suatu urusan, tidak membaca suatu ayat Al-Qur’an, dan tidak pula mengerjakan suatu pekerjaan, kecuali Kami menjadi saksi atasmu ketika kamu melakukannya. Tidak ada yang luput sedikit pun dari (pengetahuan) Tuhanmu, walaupun seberat zarah, baik di bumi maupun di langit. Tidak ada sesuatu yang lebih kecil dan yang lebih besar daripada itu, kecuali semua tercatat dalam kitab yang nyata (Lauhulmahfuz). (QS. Yunus [10]:61

      Dengan meyakini adanya takdir Allah, seorang muslim akan merasa tenang dan tentram dalam hidupnya. Keyakinan yang mantap melahirkan buah-buah positif dalam kehidupannya. Dia tidak akan pernah risau atau kegagalan yang menimpanya. Sabar dan syukur adalah dua senjata dalam menghadapi setiap permasalahan hidup.[4]


      [1] Muslim bin al-Hajjāj, Ṣhahih Muslim, (Madinah: Dār Taibah, 2006), Kitāb Al-Qadr, Bāb al-Khalqi al-Ᾱdamῑ fῑ baṭnῑ Ummuhu. h. 1220

      [2] Tafsir Mafatih Al-Ghaib “At Tafsir Al-Kabir”, Fakhrudin Ar-Razi (Bairut : darr Ihya At-Turots Al-Arabiy, 1420 H) 23/229

      [3] https://quran.kemenag.go.id, (Al-Qur’an Kemenag 13:11), diakses pada tanggal 15 maret 2022 pukul 7:15

      [4] Darul ilmi: Mengenal Akidah Islam: Berawal dari Rukun Iman, (Bandung: Baitul Imli, 2015), h. 85

      Leave A Reply

      Your email address will not be published. Required fields are marked *